Jumat, 01 Mei 2009

Upah Membunuhnya Rp2 M Ketua KPK Tersangka

Sembilan Tersangka, Dua Buron, Pejabat Tinggi Pun Terlibat baru saja ketua KPK diumumkan sebagai tersangka baru dalam kasus ini


Pelaku pembunuhan Direktur PT Putra Rajawali Banjaran (PRB) Nasrudin Zulkarnaen dibayar Rp2 miliar. Namun pelaku eksekutor baru dibayar Rp250 juta.

Kasus penembakan Nasrudin Zulkarnaen diduga juga melibatkan pejabat negara. Namun pejabat itu pangkatnya tidak tinggi. Dan nama Ketua KPK Antasari Azhar, sempat disebut-sebut.


Sebelumnya Mabes Polri telah menetapkan 9 orang tersangka pembunuhan Nasrudin. Salah satunya Komisaris Utama PT Pers Indonesia Merdeka (PIM) Sigid HaryoWibisono, 42. Sedangkan dua tersangka lain masih buron.


Kabareskrim Polri Komjen Susno Duadji mengatakan, dirinya lupa nama-nama pelakunya. ”Inisialnya SH (Sigid Haryo, red), karena penyelidikan ini masih terdapat missing link dan masih ada yang belum menyambung. Karena masih ada pelaku yang belum tertangkap. Ada dua orang yang sedang masih dikejar,” ujarnya di Mabes Polri kemarin petang.


Jendral bintang tiga ini belum bisa memastikan dua pelaku yang masih buron merupakan otak pembunuhan Nasrudin atau bukan. Dan pihaknya sangat berhati-hati dalam mengungkap kasus pembunuhan ini. ”Semuanya


orang-orang penting,” tegasnya.
Polisi menyebutkan, kasus ini melibatkan pejabat negara. Namun pejabat itu pangkatnya tidak tinggi. Ya, tidak terlalu tinggi, tapi bagi penyidik tidak perlu tinggi-tinggi. ”Dan itu tidak berpengaruh,” ucapnya.
Saat ditanya wartawan, apakah ada mantan Kapolres yang terlibat? ”Kita nggak lihat pekerjaannya, yang kita lihat orangnya. Tadi dia bertemu dengan Kapolri membicarakan mengenai Nasrudin. Kalau sudah selesai semua ini akan diumumkan oleh Kapolri. Karena hari ini pun kita bekerja keras,” kata dia.


Susno kembali menegaskan, motif pembunuhan Nasrudin adalah masalah pribadi. Penyelidikan petugas belum mengarah ke motif asmara. Yang penting pembunuhannya.”Kita tidak ada urusan,” tegasnya.


Sebelum terjadinya pembunuhan Direktur PRB Nasrudin, sembilan pelaku berbagi tugasnya masing-masing. Bahkan menurut informasinya, diduga pelaku menawarkan dana sejumlah Rp2 miliar untuk menghilangkan nyawa Nasrudin. Namun eksekutor penembakan itu baru dibayar sekitar Rp250 juta. Hingga kini, petugas masih mengejar dua pelaku lainnya yang masih buron.


Sementara itu, nama pejabat tinggi yang terlibat dalam kasus penembakan Nasrudin hingga tadi malam masih misterius. Beredar kuat bahwa pejabat tinggi negara itu adalah pejabat penegak hukum. Dia dikabarkan ditangkap di Lembang, Bandung. Namun pejabat yang bersangkutan yang diketahui adalah Ketua KPK Antasari Azhar yang disebut-sebut, membantahnya.


Setelah ditunggu berjam-jam, Ketua KPK Antasari Azhar muncul di Kompleks Perumahan Giri Loka 2, Bumi Serpong Damai, Serpong Utara, Tangerang Selatan. Antasari muncul pukul 22.50 WIB, tadi malam dengan menggunakan sedan Camry B 183 DT. Dia dikawal oleh tiga orang.


Saat dicegat wartawan, Antasari mengaku kaget. ”Enggak, enggak benar itu. Saya itu malah melindungi Nasrudin. Dia itu saksi saya, karena dia beberapa kali melaporkan dugaan korupsi di RNI beberapa bulan lalu,?” katanya. Antasari yang tadi malam berbaju batik merah lengan panjang itu heran dengan menyebarnya isu penangkapan dirinya. ”Saya siap kalau diperiksa polisi karena saya juga penegak hukum. Tidak mungkin saya kabur,” ujarnya.


Nasrudin, kata Antasari, pernah berkonsultasi terkait tidak ditempatkannya dia sebagai direktur SDM di PT RNI (Rajawali Nusantara Indonesia). ”Padahal saat itu SK sudah turun ketika Meneg BUMN dijabat Sugiharto,” katanya. Antasari tidak ingin menyelidiki siapa penyebar isu itu. ”Saya ini penegak hukum, bekerja berdasar hukum,” ujarnya.


Antasari mengaku mendengar isu seputar pemeriksaan dirinya tersebut. Ada pula, lanjutnya yang menghembuskan kabar bahwa dia lari ke Australia. ”Malah tadi ada yang menelepon saya nanya, Pak, ditahan di mana?” ungkapnya.


Mengenai ketidakhadirannya dalam acara di Kementerian Negara BUMN, Antasari mengatakan, acara tersebut terkait dengan upaya pencegahan korupsi. Karena itu, dia mewakilkan kepada Wakil Ketua KPK bidang pencegahan Haryono Umar untuk hadir. ”Saya minta Pak Haryono yang datang, jadi saya berbagi lah,” jelas dia lantas masuk mobil.


Bos Surat Kabar


Kemarin petang, Direktur Pusat Pengkajian Strategi Merdeka, salah satu lembaga pemikir di koran Harian Merdeka, Bonny Hargens, menjenguk bosnya yang merupakan Komisaris Utama PT PIM, Sigid di Rutan Polda Metropolitan Jakarta Raya.


Bonny mengaku sangat syok dan terpukul dengan penangkapan terhadap bosnya itu. Apalagi Sigid dituding menjadi otak penembakan dan pembunuhan terhadap Nasrudin Zulkarnaen. ”Mari kita serahkan kasus ini ke dalam proses hukum. Tapi saya minta polisi profesional dalam menangani kasus ini,” ujar Bonny yang juga pengamat politik ini.


Dia juga mengaku sangat dekat dengan Sigid dan tidak melihat karakter koleganya itu mengarah ke kasus yang dituduhkan polisi. ”Tapi saya tak mau mengomentarinya lebih jauh. Biarkan penyidik yang bekerja,” ujarnya.


Bonny mengaku terakhir kali berkomunikasi dengan Sigid pada Rabu malam (29/4) atau beberapa saat sebelum Sigit ditangkap. ”Bahkan kemarin pagi masih ketemu beliau, karena memang saya kerja di kantornya dia (Sigit). Juga di hari-hari sebelumnya,” tandasnya.


Tapi ia tidak menampik kalau penangkapan Sigid ini sangat bernuansa politis khususnya menjelang Pilpres 2009 ini. “Seperti anda tahu dia dekat dengan putrinya Gus Dur (Yenny Wahid, red) lalu bergabung menjadi pengurus PKB-nya Gus Dur, kebetulan pula partai yang dimasukinya itu berseberangan dengan partai pemerintah. Silakan anda analisis sendiri,” ujarnya.


Pimpinan Redaksi Harian Merdeka Mulyana W.Kusumah saat ditemui di kantornya hanya mengatakan kalau dirinya sangat terkejut dan terpukul pula. “Saya belum yakin kalau Sigit terlibat apa yang dtuduhkan polisi. Saya harus cari tahu lagi. Saya nggak mau ngomong banyak,” tegas Mulyana lalu langsung masuk ke mobilnya.


Sumber kuat di Direktorat Reskrimum Polda Metro Jaya mengatakan kalau pihaknya masih mengejar dua tersangka lain yang terlibat dalam pembunuhan itu yang dalam waktu dekat akan tertangkap. ”Semuanya baru sembilan orang yang diamankan, mulai dari eksekutor di lapangan sampai otak pembunuhan atau si penyandang dananya. Nah yang kami kejar termasuk kategori otak pembunuhan atau perancangnya,” ujar sumber itu singkat.


Sigid kelahiran Solo 11 November 1966 itu sering disapa SHW oleh koleganya. Suami Sri Hapsari ini dikaruniai 4 anak. Dia mearih gelar sarjana ekonomi di Universitas Diponegoro Semarang. Dia juga alumnus Lemhannas. Pada November tahun lalu ia meluncurkan buku hasil buah tangannya yang berjudul ”Membangun Pilar Persatuan dan Kesatuan Bangsa”.


Karir pengusaha sukses di bidang politik ini juga tergolong moncer. Dia pernah menjadi anggota DPRD I Jawa Tengah dari Golkar. Tapi, Agustus 1998 dia mengundurkan diri lalu pindah ke Jakarta untuk menjadi Asisten Pribadi Menteri Kehakiman saat itu.


Selanjutnya dia manjabat sebagai Penasihat Menteri Sosial Bidang Khusus Kabinet Gotong Royong 2002-2004, lalu Penasihat Menteri Sosial Bidang Khusus Kabinet Indonesia Bersatu 2004-2006. Kemudian menjabat sebagai Staf Khusus Menteri Sosial bidang Sosial Ekonomi pada 2005-2007.
Saat ini jabatan politiknya adalah sebagai anggota Dewan Syuro DPP PKB pimpinan Gus Dur dan terlihat ”akrab” dengan putri Gus Dur yang juga ketua DPP PKB Gus Dur, Yenny Wahid.


Di bidang bisnis pun karir Sigit cemerlang, setelah mengakuisisi majalah Maestro terakhir ia pada 10 November 2008 ia mendirikan PT Pers Indonesia Merdeka dengan menerbitkan Harian Merdeka berikut situs digitalnya.


Sehari-harinya, menurut beberapa karyawan di kantornya, Sigit selalu berpenampilan sangat necis dengan mengenakan setelan jas atau kemeja batik sutera. Mobil pribadinya pun kerap berganti seperti Jaguar, Lexus, Morris Mini maupun Land Rover Cruiser Turbo seri terbaru. *

Tidak ada komentar:

Posting Komentar