Tampilkan postingan dengan label bisnis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label bisnis. Tampilkan semua postingan

Selasa, 15 Januari 2013

Daftar Gaji Para Petinggi BUMN

Inilah Daftar Gaji Para Petinggi Telkom
Selama satu tahun penghasilan orang nomor satu Telkom adalah Rp 7,53 miliar.

VIVAnews - Rencana pemerintah menaikkan gaji pejabat negara menuai kontroversi banyak kalangan. Sejumlah pejabat sering membandingkan gaji mereka dengan gaji direksi perusahaan milik negara yang justru menjadi bawahan mereka.
Namun, kalangan lainnya menilai gaji pejabat negara tak layak dibandingkan dengan gaji direksi BUMN. Sebab, pejabat negara merupakan jabatan pengabdian kepada negara, sedangkan BUMN berorientasi untuk mencari keuntungan.
Jika ditelusuri, tak bisa dipungkiri gaji para direksi BUMN memang cukup mencengangkan. Misalnya, gaji bos Bank Mandiri, BRI, BNI, Pertamina dan Telkom. Gaji mereka jauh lebih besar ketimbang gaji menteri yang menjadi atasan mereka, bahkan jika dibandingkan dengan gaji presiden Republik Indonesia sekalipun.
Contohnya saja, gaji direksi PT Telkom Indonesia. Seperti disebutkan dalam laporan keuangan Telkom tahun 2008 yang juga dipublikasikan melalui pasar modal, penghasilan direksi BUMN ini cukup mencengangkan.
Selama satu tahun penghasilan orang nomor satu Telkom adalah Rp 7,53 miliar. Jika dihitung rata-rata per bulan, Rinaldi Firmansyah yang menjabat Direktur Utama Telkom akan memperoleh penghasilan Rp 627,5 juta setiap bulannya.
Direktur yang memperoleh gaji terbesar kedua adalah Arief Yahya, Direktur Enterprise & Wholesale Telkom sebesar Rp 7,49 miliar.
Berikut ini perincian gaji direksi dan komisaris perusahaan telekomunikasi terbesar di Indonesia tersebut seperti disebutkan dalam laporan keuangan BUMN ini.
Gaji Dewan Direksi PT Telkom (dalam juta rupiah)
DireksiGajiTunjanganAsuransiTunjangan LainTotal
Rinaldi Firmansyah1.800,03.591,4342,91.795,57.529,6
Faisal Syam1.620,02.739,2308,61.591,26.259,7
Sudiro Asno1.620,02.739,2308,61.938,96.606,7
Ermady Dahlan1.620,02.739,2308,62.089,06.756,8
I Nyoman G1.620,02.739,2308,61.513,66.181,4
Arief Yahya1.620,03.287,0308,62.282,47.498,0
Gaji Dewan Komisaris Telkom (dalam juta rupiah)
KomisarisGajiTunjanganAsuransiTunjangan LainTotal
Tanri Abeng900,01.765,2-796,83,462,0
Arif Arryman810,01.588,7-743,13.141,8
P Sartono810,01.588,7-713,13.111,8
Mahmuddin Yasin810,0821,8-713,12.344,9
Anggito Abimanyu405,01.588,7-405,72.399,4
Bobby AA Nazief202,5--304,1506,6
+++++++
Rata-rata satu orang direksi Mandiri membawa pulang duit Rp 6,6 miliar selama 2008.
Dirut Bank Mandiri, Agus Martowardojo (daylife.com)
VIVAnews – Direktur Utama PT Bank Mandiri Tbk, Agus Martowardojo enggan mengomentari soal gaji dirinya yang jauh lebih tinggi, bahkan sampai 4 kali dibandingkan dengan gaji kotor Presiden Republik Indonesia.
“Nanti, saya lihat dulu gaji saya, berapa ya,” ujar Agus di Jakarta, Kamis, 29 Oktober 2009.
Dalam laporan keuangan Bank Mandiri 2008, gaji, tunjangan, dan bonus yang diberikan kepada 12 direksi mencapai Rp 79,35 miliar. Angka ini terdiri dari Rp 26,84 miliar gaji pokok, Rp 16,28 miliar tunjangan, dan Rp 36,23 miliar bonus. Rata-rata satu orang direksi Mandiri membawa pulang duit Rp 6,6 miliar selama 2008.
Apakah setuju gajinya diturunkan?
Agus menjawab, “Kalau kami si tergantung pemegang saham.”
Menurut dia, hasil rapat pemegang umum saham menentukan besaran gaji direksi satu perusahaan. Selain itu, pemegang saham juga melihat dari sisi pengelolaan unit bisnis. Pemegang saham tentu akan menyesuaikan dengan tugas dan risiko bisnis. “Itu terus ditetapkan.”
Disinggung soal kesenjangan gaji bos BUMN dengan gaji pejabat negara, Agus mengaku tidak memiliki opini soal itu. “Kalau soal itu, Direktur sumber daya manusia yang bisa menyampaikan.”
Terkait dengan penurunan gaji para bankir yang dilakukan oleh negara-negara anggota G-20, Agus menekankan yang disorot di forum G-20 adalah invesment banking yang umumnya aktif bermain di pasar finansial dengan berbagai jenis produk derivatif.
Menurut dia, di industri perbankan terbagi dalam dua kategori, yakni core banking dan investment banking. Kalau commercial banking termasuk dalam core banking sehingga tidak menjadi tekanan. “Yang disorot G20 adalah bank investasi.”
Di antara total 141 badan usaha milik negara (BUMN), direktur utama perusahaan mana yang gajinya tertinggi? Bagaimana jika dibandingkan dengan swasta?
DI Indonesia, urusan gaji masih sering dianggap hal yang tabu untuk dibicarakan secara blak-blakan. Banyak perusahaan yang enggan merilis data gaji yang dibayarkan kepada para eksekutifnya. Salah satu alasannya menghindari pembajakan eksekutif berprestasi oleh perusahaan lain yang menjadi kompetitor.
Beruntung, sejak beberapa tahun terakhir, ada kebiasaan bagus yang dilakukan oleh BUMN yang sudah go public atau listing di Bursa Efek Indonesia. Setiap rapat umum pemegang saham (RUPS) tahunan, perusahaan-perusahaan pelat merah menyertakan informasi umum tentang remunerasi bagi direksi dan komisarisnya.
Dengan demikian, publik pun bisa menelusuri berapa besar gaji dan bonus yang diterima oleh bos-bos BUMN besar tersebut. Transparansi itu penting untuk menuju tata kelola perusahaan yang baik atau good corporate governance (GCG).
Nah, seberapa besarkah remunerasi yang diterima? Ternyata, angkanya sangat besar, mencapai ratusan juta rupiah per bulan. Tidak salah jika dikatakan bahwa gaji para bos BUMN saat ini selangit. Menteri Negara BUMN Sofyan Djalil mengatakan, perbaikan remunerasi merupakan salah satu strategi untuk mendorong profesionalisme para eksekutif BUMN. ”Yang terpenting, sistem remunerasi harus berbasis kinerja. Jika kinerjanya bagus, remunerasi juga bagus. Gaji naik, ditambah bonus. Tapi jika kinerjanya jelek, remunerasinya juga tidak akan naik,” ujarnya.
Karena itu, Sofyan mengatakan lega karena menjelang akhir masa jabatannya sebagai Men BUMN, pihaknya berhasil menyelesaikan peraturan menteri (permen) tentang pedoman penetapan penghasilan direksi, komisaris,dan dewan pengawas BUMN. Permen No 2/MBU/2009 tersebut ditetapkan akhir April lalu. ”Permen ini menjadi rambu-rambu untuk menetapkan remunerasi pejabat BUMN,” katanya.
Menurut Sofyan, perbaikan remunerasi diharapkan bisa sejalan dengan perbaikan kinerja BUMN. Untuk itu, sistem remunerasi BUMN yang selama ini relatif kurang jika dibandingkan dengan sektor swasta di bidang industri sejenis ditargetkan bisa semakin kompetitif. ”Saat ini, sudah relatif kompetitif. Contohnya, bank. Ini supaya orang yang terbaik tetap bertahan di situ (BUMN, Red),” jelasnya.
Saat ini, di antara total 141 perusahaan pelat merah, kinerja BUMN sektor perbankan memang cukup menonjol. Karena itu, gaji eksekutif bank pelat merah masuk dalam jajaran gaji tertinggi di BUMN. Hingga 2009, rekor gaji tertinggi di BUMN masih dipegang oleh eksekutif Bank RakyatIndonesia (BRI). Per 2009, Direktur Utama BRI Sofyan Basyir membawa pulang gaji Rp 167 juta per bulan. Direktur lain mengantongi Rp 150 juta per bulan.
Selain gaji, eksekutif BRI mengantongi bonus besar. Tahun ini, para direksi dan komisaris menerima total bonus atau tantiem Rp 69,11 miliar. Bonus tersebut dibagi untuk 10 orang direksi, 6 orang komisaris, dan 1 orang sekretaris dewan komisaris.
Komposisi pembagian menggunakan skema standar 100 persen untuk direktur utama, sedangkan direksi menerima bonus 90 persen dari yang diterima direktur utama. Komisaris utama menerima bonus 40 persen dari yang diterima direktur utama. Komisaris menerima 36 persen dari yang diterima direktur utama dan sekretaris dewan komisaris menerima bonus 15 persen dari yang diterima direktur utama.
Dengan komposisi tersebut, tahun ini Direktur Utama BRI Sofyan Basyir mengantongi bonus Rp 6,036 miliar. Jika ditambah dengan gaji Rp 167 juta per bulan, total gajidan bonus yang dikantongi Sofyan mencapai Rp 8,04 miliar setahun atau setara dengan Rp 670 juta per bulan.
Pundi-pundi duit yang dikantongi bos BRI memang terus naik dari tahun ke tahun. Pada 2008, gaji direktur utama Rp 150 juta dan direktur lainnya Rp 135 juta. Tahun lalu, BRI membagikan bonus atau tantiem total Rp 39,187 miliar. Dengan angka tersebut, direktur utama mengantongi tantiem Rp 3,422 miliar. Dengan demikian, setelah dijumlahkan dengan gaji selamasatu tahun, total gaji dan bonus yang diterima Rp 5,222 miliar atau setara Rp 435,16 juta per bulan.
Pada 2007, gaji direktur utama BRI Rp 123 juta per bulan dan gaji direktur lainnya Rp 112 juta per bulan. Pada tahun itu, BRI memberikan tantiem total Rp 21,290 miliar. Sebanyak Rp 1,859 miliar di antaranya diperuntukan direktur utama. Dengan demikian, pada 2007 direktur utama mengantongi total gajidan bonus Rp 3,335 miliar atau setara Rp 277,91 juta per bulan.
Keputusan pemegang saham untuk terus menaikkan gaji eksekutif BRI dan mengguyur bonus miliaran rupiah, tampaknya, mengacu pada kinerja perseroan yang terus meningkat. Pada 2006, BRI membukukan laba bersih Rp 4,257 triliun. Pencapaian itu terus naik pada 2007 dengan raihan laba bersih Rp 4,838 triliun. Pada 2008, saat turbulensi perekonomian global menerjang paro kedua tahun lalu, manajemen BRI masihbisa mendongkrak laba bersih hingga Rp 5,958 triliun.
Di bawah BRI, eksekutif BUMN yang masuk jajaran bergaji tertinggi adalah Bank Mandiri. Tahun ini, Agus Martowardojo yang menduduki kursi direktur utama mengantongi gaji Rp 166 juta per bulan, sedangkan anggota direksi lainnya mengantongi Rp 150 juta per bulan.
Gaji bos Bank Mandiri memang hanya tipis di bawah gaji bos BRI. Namun, untuk urusan bonus atau tantiem, angkanya terpaut cukup jauh. Jika tahun ini direktur utama BRI mendapatkan tantiem Rp 6,036 miliar, tantiem untuk direktur utama Bank Mandiri Rp 4,77 miliar. Meski demikian, jika dijumlah dengan total gaji, pundi-pundiyang dikantongi Agus Martowardojo masih sangat besar, yakni Rp 6,762 miliar setahun atau setara Rp 563,5 juta per bulan.
Sebenarnya, pada 2008, total remunerasi yang dikantongi bos Bank Mandiri lebih besar daripada yang didapat bos BRI. Pasalnya, tahun lalu, besaran gaji direktur utama BRI dan Bank Mandiri sama, yakni Rp 150 juta per bulan. Demikian pula gaji anggota direksi Rp 135 juta.
Namun, tahun lalu pemegang saham Bank Mandiri memberikan tantiem lebih besar. Jika total tantiem BRI Rp 39,187 miliar, tantiem untuk eksekutif Bank Mandiri mencapai Rp 46,06 miliar. Dengan demikian, besaran tantiemyang diterima direktur utama pun lebih besar, yakni mencapai Rp 3,70 miliar. Jika ditotal dengan gaji, penghasilan selama setahun yang diterima bos Bank Mandiri pada 2008 mencapai Rp 5,50 miliar atau setara Rp 458,33 juta per bulan.
Tidak semua bos BUMN bersedia bicara terbuka soal penghasilan yang diterima dan bagaimana membelanjakannya. Salah seorang yang cukup terbuka adalah Direktur Utama Bank Mandiri Agus Martowardojo.
Pria kelahiran Amsterdam, 24 Januari 1956 tersebut bicara te­rang-terangan saat ditanya tentang keputusan rapat umum pemegang sahamyang menaikkan gajinya pada 2009. “Gaji saya naik dari Rp 150 juta per bulan menjadi Rp 166 juta per bulan,” ujarnya.
Menurut Agus, kenaikan gaji itu dinilai wajar oleh pemegang saham seiring dengan meningkatnya kinerja Bank Mandiri sepanjang 2008. “Karena itulah, gaji direksi naik 11,06 persen,” katanya.
Tahun lalu Bank Mandiri membukukan laba bersih Rp 5,31 triliun atau naik 22,3 persen jika dibandingkan dengan jumlah tahun sebelumnya, Rp 4,34 triliun. Laba 2008 tersebut merupakan pen­capaian tertinggi Bank Mandiri sepanjang sejarahnya.
Adapun Direktur Utama Bank Rakyat Indonesia Sofyan Basyir belum bersedia bicara soal remunerasi yang diterimanya.
http://www.jawapos.co.id/halaman/index.php?act=detail&nid=88206
+++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Jumat,Kompas 22 Juli 2011
Gaji Ke-13 Pejabat Negara
Ainna Amalia FN
Pada 30 Juni lalu, pemerintah mengeluarkan PP Nomor 33 Tahun 2011 tentang Gaji, Pensiun, Tunjangan Bulan Ke-13 kepada PNS, anggota TNI, anggota Polri, pejabat negara, dan pensiunan.
Gaji ke-13 tahun ini menghabiskan anggaran negara Rp 8 triliun: Rp 1 triliun dialokasikan untuk gaji ke-13 para pejabat negara. Menurut PP No 33/2011, para pejabat negara juga kecipratan jatah gaji ke-13. Padahal, tiap bulan mereka telah mendapat gaji beserta tunjangan rata-rata di atas Rp 10 juta.
Lihat saja, gaji dan tunjangan presiden per bulan Rp 62 juta; wakil presiden Rp 42 juta; menteri, jaksa agung, panglima TNI, dan pejabat setingkat masing-masing lebih dari Rp 18 juta; ketua DPR Rp 30 juta; serta wakil ketua DPR Rp 26 juta.
Di samping menerima gaji tinggi, para pejabat negara juga mendapat fasilitas rumah dan mobil dinas. Mobil dinas menteri dan pejabat tinggi lain adalah Toyota Crown Royal Saloon seharga Rp 1,3 miliar. Rumah dinas yang mereka tempati pun bernilai miliaran rupiah.
Ganti rugi cara Belanda
Ini berbeda halnya dengan gaji dan fasilitas pejabat negara di Belanda, salah satu negara kaya di dunia yang berpendapatan per kapita 22.570 euro (Rp 273,28 juta). Alih-alih beroleh gaji ke-13, anggota parlemen Belanda bahkan tak menerima gaji dan fasilitas mobil. Mereka hanya memperoleh ganti rugi transpor yang tak terlalu besar nilainya.
Banyak ditemukan anggota parlemen berangkat ke kantor dengan trem, sejenis kendaraan umum kota mirip kereta api tetapi bentuknya lebih kecil. Bahkan, ada yang pergi dinas dengan naik sepeda onthel.
Negara hanya mengganti uang transpor untuk kepentingan tugas keparlemenan 781,36 euro (Rp 9,5 juta) bagi yang bertempat tinggal dalam radius 10-15 kilometer (km) dari kompleks parlemen Binnenhof (Den Haag). Yang tinggal di radius 15-20 km mendapat 1.093,63 euro (Rp 13,2 juta) dan yang bermukim di radius lebih dari 20 km menerima uang transpor 1.562,72 euro (Rp 18,9 juta). Yang berumah dalam radius kurang dari 10 km tak masuk dalam ketentuan itu dan tak dapat apa-apa.
Sungguh amat berbeda keadaannya dengan pejabat di Tanah Air yang berlimpah gaji dan fasilitas. Gaji tinggi dan beragam fasilitas bagi pejabat negara itu tak sebanding dengan tingkat kesejahteraan rakyat indonesia.
Menurut data BPS (Maret 2011), jumlah penduduk miskin Indonesia 30,02 juta jiwa, sekitar 12,49 persen dari total penduduk Indonesia. Warga miskin ini berpenghasilan di bawah Rp 220.000 per bulan. Bisa dibayangkan, betapa repot mereka memenuhi kebutuhan makan sehari-hari dengan penghasilan hanya Rp 220.000 per bulan. Ini belum lagi untuk kebutuhan lain seperti pendidikan dan kesehatan.
Melihat keadaan semacam ini, pejabat yang merupakan pelayan masyarakat seharusnya malu jika masih mendapat gaji ke-13. Anggaran sebesar Rp 1 triliun untuk gaji ke-13 para pejabat seharusnya dialokasikan untuk kepentingan rakyat kecil yang jauh lebih membutuhkan.
Para pejabat seharusnya menyadari hakikatnya sebagai pejabat: melayani rakyat. Karena rakyat yang dilayani masih banyak yang belum hidup layak, tidak pantas bagi pejabat mendapat gaji ke-13 dari APBN/APBD yang notabene adalah hasil keringat rakyat Indonesia.
Mau dengan alasan ”tugas berat dan tanggung jawab besar sebagai pejabat negara”? Itu adalah konsekuensi seorang pejabat. Atau dengan alasan ”pejabat juga memiliki kebutuhan hidup seperti masyarakat lain”? Saya kira kedua alasan itu tak pas bagi pejabat untuk menerima gaji lebih besar lagi, sementara masih banyak warga yang susah memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Mental pejabat yang rakus dan selalu merasa kekurangan ini muncul karena sistem di negara kita mensyaratkan modal besar untuk menjadi seorang pejabat. Otomatis ketika menjadi pejabat, mereka berusaha mengembalikan modal yang telah mereka gunakan dengan berbagai cara untuk mendapat jabatan.
Di samping itu, budaya feodal telah mencetak pejabat kita bermental juragan—bergaya hidup mewah dan glamor—sehingga berapa pun gaji dan fasilitas yang mereka terima selalu tak cukup memenuhi kebutuhan mereka yang ”langit adalah batasnya”. Sikap mental itulah yang telah membutakan mata hati pejabat kita. Mereka tidak peka dengan ketidaksejahteraan rakyat.
Patut diapresiasi apa yang dilakukan Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud MD menolak gaji ke-13. Penolakan seperti itu juga dilakukan oleh Ketua Mahkamah Konstitusi Jimly Asshiddiqie pada tahun 2006. Menurut keduanya, gaji ke-13 hanya pantas bagi pegawai negeri sipil golongan I dan II. Pejabat negara dengan golongan lebih dari itu tidak layak mendapatkannya.
Jika para pejabat negara merasa kurang dengan gaji yang telah mereka terima, persoalannya terletak bukan pada besar atau kecilnya gaji, melainkan pada sikap mental dan gaya hidup yang seharusnya sudah diubah. Gaya hidup yang sekarang berlebih-lebihan itu mestinya berubah menjadi sikap hidup yang sederhana.
Belajar hidup sederhana
Perihal hidup sederhana, agaknya pejabat negara kita perlu belajar banyak dari sosok Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad. Selama menjabat sebagai presiden, dia tidak pernah mengambil gajinya sebagai presiden. Ketika diwawancarai oleh wartawan TV FOX Amerika Serikat, dia memberikan alasan bahwa semua kesejahteraan milik negara dan rakyat. Ia bertugas menjaganya.
Ahmadinejad hanya mengambil gajinya sebagai dosen di sebuah universitas, yang tak lebih dari 250 dollar AS (Rp 2,1 juta) per bulan. Presiden Iran ini juga tidak menempati rumah dinas yang mewah, tetapi tetap tinggal di rumah sendiri yang sederhana, warisan dari ayahnya 40 tahun silam.
Ketika melaksanakan perjalanan dinas, dia memilih naik pesawat terbang biasa dan duduk di kelas ekonomi. Sungguh sebuah potret pemimpin yang lebih mengutamakan kepentingan rakyat daripada kepentingan sendiri.
Para pejabat di India setali tiga uang. Sebagaimana diceritakan Akbar Faizal (Partai Hanura) ketika DPR melakukan kunjungan kerja di India pada Mei lalu, para menteri India sehari-hari hanya pakai baju sederhana khas India, bukan baju mahal bermerek internasional. Mereka lebih senang memakai produk dalam negeri ketimbang buatan luar negeri.
Setelah selesai melakukan kunjungan ke India, anggota Komisi II DPR ini mengaku merasa malu dengan gaya hidup pejabat di Indonesia. Malu dengan banyaknya gaji dan fasilitas yang telah mereka terima. Sekarang tinggal kita menunggu apakah para pejabat ini akan merasa malu menerima gaji ke-13. Apakahmereka masih memiliki kekuatan nurani untuk menolak gaji ke-13? Kita lihat saja.
Ainna Amalia FN Dosen IAIN Sunan Ampel Surabaya dan Peneliti di Lembaga Penelitian Agama dan Sosial Budaya Surabaya

Bisnis anak cucu konglomerat indonesia?

 Mau tau bisnis anak cucu konglomerat indonesia?
Sejak lahir mereka telah berkubang kemewahan dan mewarisi kerajaan bisnis keluarga. Toh, tak semua tertarik menjadi putra mahkota. Ada juga yang lebih senang menorehkan jejaknya sendiri. Bagaimana kiprah mereka?

Kalian berhak berusaha menjadikan diri seperti mereka
Namun jangan pernah menjadikan mereka seperti kalian
Sebab kehidupan tidak pernah berjalan mundur
Dan tidak pernah pula tenggelam di masa lampau
Kalian adalah busur
Dan anak-anak itu adalah anak panah yang meluncur

(Kahlil Gibran dalam Sang Nabi).


Anak-anak panah”? itu memang telah melesat, bahkan mungkin mengorbit menggapai langit, melampaui batas harapan orang tua. Ada yang mengikuti jejak orang tuanya menjadi pebisnis bahkan mewarisi bisnis yang telah dirintis orang tuanya. Sebut saja Anthony Salim. Anak taipan Sudono Salim ini telah lama malang melintang menjadi nakhoda di imperium bisnis Grup Salim. Anthony tercatat sebagai CEO PT Indofood Sukses Makmur Tbk. Begitu juga Michael Joseph Sampoerna yang didapuk menempati pos sebagai CEO PT HM Sampoerna Tbk. di usianya yang menginjak 25 tahun. Hal yang sama dialami Anindya Novian Bakrie, Luckyto Wanandi, Jeffry Jan Dharmadi, Agus Salim Pangestu, Purnomo Prawiro, Noni Purnomo dan Dandy Rukmana, yang diserahi tampuk kekuasaan oleh generasi sebelumnya (lebih rincinya lihat Tabel).

Namun sepertinya air cucuran hujan tak selalu jatuh ke pelimbahan. Anak-anak atau cucu konglomerat ini tak semuanya tertarik untuk bergabung di perusahaan keluarga yang notabene telah dibangun dan dibesarkan oleh sang orang tua dengan — boleh jadi — cucuran air mata dan darah. Meski mengikuti jejak orang tua menjadi pebisnis, ternyata ada juga anak-anak konglomerat ini yang lebih enjoy mengibarkan bendera sendiri.
Sebut saja Dian Muljadi. Putri Kartini Muljadi — salah satu pemilik Tempo Scan Pacific Tbk. — ini sukses membentangkan kerajaan bisnisnya sendiri bersama sang suami, dan Adiguna Sutowo lewat Mugi Rekso Abadi. Anak Sudwikatmono, Agus Lesmono, pun memilih membangun bisnisnya sendiri dengan membangun Grup Indika. Meski hampir semua anak Sudono Salim ikut cawe-cawe di Grup Salim, para cucunya ternyata lebih asyik membangun bisnisnya sendiri. Lihat saja kiprah Fransisca Liem dengan butik Hermesnya. Cucu Om Liem ini sepertinya emoh bergabung dengan kerajaan bisnis moyangnya yang sudah menggurita di berbagai sektor bisnis. Setali tiga uang, Ronald Liem malah nyemplung ke bisnis media dengan mendirikan Majalah Prestige Indonesia, majalah lisensi asal Singapura.

Ada juga konglomerat yang justru tak menginginkan anaknya ikut terjun di bisnis keluarga. Bambang Rachmadi, misalnya. Pemilik jaringan waralaba McDonald’s di Indonesia ini melarang anaknya terlibat dalam bisnis yang dirintisnya. Bambang lebih senang bisnisnya diurus oleh profesional, sedangkan anaknya diberi modal dan keleluasaan untuk merintis bisnis sendiri.

Mereka adalah anak-anak kehidupan yang merindukan kehidupannya sendiri. Generasi penerus konglomerat ini ada juga yang justru memilih mengaktualisasikan diri dengan merentas karier sebagai profesional di perusahaan lain, memilih menjadi seniman, bahkan terjun ke kancah politik sebagai anggota DPR. Paquita Widjaja, Sasya Tranggono dan Astrid Salim memilih menjadi seniman ketimbang pebisnis. Begitu pula Sjakon George Tahija yang lebih suka menggeluti profesi dokter dan kemudian membangun klinik mata. Ada banyak mereka yang lebih memilih mengepakkan sayapnya di jalur yang mereka minati dan sukai. Anak-anak konglomerat ini sepertinya tak silau dengan jabatan mentereng di perusahaan besar milik orang tuanya. Mereka bahkan mau bersusah payah merentas karier atau membangun bisnisnya dari nol.

“Lakukan sesuatu yang kamu kenal dan membuatmu bahagia.” Nasihat itulah yang mengantarkan Paquita Widjaja menjadi seniman dan staf pengajar di Institut Kesenian Jakarta. Ketimbang meneruskan bisnis yang telah dibangun keluarganya, putri bungsu pasangan pengusaha papan atas Johnny dan Martina Widjaja ini justru memilih dunia seni sebagai aktualisasi dirinya. “Yang penting bagi orang tua saya adalah kerja keras, mencoba menjadi yang terbaik yang kami bisa,” tutur pemilik rumah produksi Ratna Sintesa Entertainment ini. Dan, Paquita telah membuktikan bahwa ia bisa eksis di dunia seni yang dipilihnya.

Menjadi yang terbaik di bidangnya. Itu pula yang diakui Sjakon diajarkan almarhun ayahnya, Julius Tahija. Sjakon menuturkan, sang ayah tidak pernah mengarahkan dirinya untuk menggeluti bidang tertentu. “Ia mengajarkan untuk menjalani sesuatu dengan baik dan melakukannya dengan excellent,” ungkap Sjakon Tahija, putra sulung mantan Dirut Caltex ini. Julius tidak pernah meminta anak-anaknya masuk dunia bisnis. “Anaknya mau masuk bisnis atau tidak, terserah. Tapi yang penting, mendapat pendidikan dari universitas yang baik dan di Indonesia,” ungkap dokter lulusan Universitas Indonesia ini.

Sebagai seorang nasionalis, rupanya Julius sangat percaya, pendidikan di Tanah Air tidak kalah bagus dari pendidikan luar negeri. Menimba pendidikan ke luar negeri baru boleh setelah menyelesaikan program S-1 di Indonesia. “Ketika saya memilih kedokteran, ibu saya yang menyambut dengan senang hati,” cerita kelahiran Jakarta, 17 September 1952 ini. Maklum, sang ibu tercatat sebagai salah satu wanita pertama dari Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Melbourne, Australia.

Pemilik Grup Gemala, Sofyan Wanandi juga seia sekata dengan Julius Tahija. Ia juga tipikal orang tua yang sangat mengutamakan pendidikan. “Saya bisa pukul anak saya kalau main-main dengan sekolahnya,” ujar eksponen Angkatan ’66 ini. Dalam pemikirannya, regenerasi bisnis tidak bisa dilepaskan dari pendidikan generasi berikutnya. Pendidikan formal harus lebih dulu diselesaikan dengan tingkat tertinggi yang bisa ditempuh. Tak heran, ketiga putranya lulus master sangat memuaskan dari perguruan tinggi tersohor di Amerika Serikat.

Sikap keras kepada anak-anak terutama dalam hal pendidikan juga diterapkan oleh Komisaris PT Wiraswasta Gemilang Indonesia, Albert Peter Batubara. Semua anaknya diberi target tinggi. “Kalau tidak bisa, ya mereka tidak bisa minta apa yang diinginkan,” ungkapnya. Kini, AP Batubara memetik buah dari sikap kerasnya puluhan tahun silam. Ketiga anaknya berhasil mengenyam pendidikan di sekolah-sekolah favorit. Dan yang lebih membahagiakannya, mereka juga yang kini mengendalikan perusahaan yang dirintisnya.

Di mata pasangan Retno Iswara Tranggono dan Suharto Tranggono, pendidikan juga sangat penting. Senada dengan Julius Tahija, pemilik Grup Ristra ini tak memaksakan anak-anaknya mengikuti jejaknya sebagai pebisnis. Mereka mau mengukir masa depannya sebagai apa, monggo-monggo saja. Hanya saja, untuk urusan pendidikan, mereka berdua menempatkannya di tangga teratas. “Bagi kami, pendidikan anak sangat penting. Selama mereka masih memiliki keinginan untuk bersekolah, kami sebagai orang tua akan sangat mendukung,” ujar Retno Iswara Tranggono, Presdir Grup Ristra.

Tak mengherankan, ketiga anaknya mengantongi master dari universitas luar negeri. Anak sulung, Sasya Tranggono, 42 tahun, mengantongi sarjana dari Universitas Syracuse New York, AS, dan MBA dari Universitas Erasmus, Belanda. Sementara anak nomor dua, Krishna N. Tranggono, 38 tahun, meraih gelar MBA dari George Towncity dan MSc. dari Universitas George Washington. Dan si bungsu Indira Parwitasari Tranggono, 33 tahun, memperoleh gelar dokter dari Universitas Diponegoro, Semarang, lantas menimba MBA di salah satu universitas di Inggris.

Retno dan Suharto boleh keras dalam hal pendidikan anak-anaknya. Namun, untuk urusan jalan hidup yang akan dipilih, mereka sangat demokratis. “Kami memberi kebebasan kepada semua anak untuk memilih jalan hidupnya sendiri,” tutur Suharto. Meski sejatinya mereka juga tetap menawarkan pilihan supaya mau meneruskan dan mengembangkan Ristra. Diakui Suharto, keinginan anak-anaknya bisa meneruskan bisnis yang telah dibangunnya bersama sang istri sudah menjadi sebongkah asa sejak anak-anak mereka kecil. Tak heran, anak-anaknya sejak kecil sudah dikenalkan dengan bisnis mereka. Bahkan, telah diberi tahu bahwa kelak merekalah yang harus melanjutkan dan menggulirkan roda bisnis Ristra. “Kami sudah lakukan upaya pengenalan dan mengajak, tetapi tidak ada tuntutan harus. Mereka sangat memahami keinginan kami,” papar Suharto. Menurutnya, kewajiban utama orang tua adalah mendidik dan membimbing. “Bukan memaksa mereka ikut dalam bisnis. Mereka mempunyai pilihan sendiri untuk menentukan masa depannya,” tambah Retno.

Dengan sikap demokratis itu, Retno dan Suharto tampak sangat legowo menerima pilihan ketiga anaknya. Setelah sempat beberapa tahun ikut membantu bisnis orang tuanya sebagai direktur pemasaran, toh akhirnya Sasya memilih jalur lain di luar skenario yang mungkin telah dirancang Retno dan Suharto. Ia memilih menjadi seniman. Namun, Sasya bisa membuktikan pada orang tuanya bahwa pilihan hidupnya tidak keliru. Ia tetap bisa menorehkan tinta emas di bidang yang digelutinya. Sebagai pelukis, Sasya adalah segelintir pelukis cat air yang memakai media kain sutra yang ada di Indonesia. Rupanya jiwa seni lebih kuat membetot dirinya sehingga ia lebih tertarik mengguratkan “cinta”? pada kanvas ketimbang berbisnis.

“Mengapa mesti kecewa, itu pilihan hidupnya,” tandas Retno dan Suharto. Diakui mereka sejatinya berharap anak sulungnya bisa turut mengelola Ristra. “Kami sangat bangga dengan pilihan dan prestasinya,” tambah Retno. Lagi pula, bukan berarti Sasya total meninggalkan Ristra. Jejaring Sasya yang sangat luas di luar negeri sangat bermanfaat bagi pengembangan Ristra. “Biarlah Sasya bahagia dengan pilihannya, dengan profesinya sebagai pelukis, toh kontribusinya bagi Ristra tetap ada,” papar keduanya saling menimpali.

Boleh jadi mereka tak memendam kekecewaan karena anak keduanya, Krishna, terlibat secara penuh di Ristra. Bahkan, dengan posisinya yang sekarang sebagai Deputi Presdir, sepertinya Krishna dipersiapkan untuk mewarisi tongkat kepemimpinan Ristra. Sementara Indira, yang lama bermukim di Singapura dan Inggris, diharapkan secepatnya bisa bergabung untuk turut mengelola Ristra. Maklum, seperti diakui Retno, justru anak bungsunya inilah yang sejak kecil paling antusias dan telah menunjukkan minat terhadap bisnis yang dilakukan orang tuanya. Indira kecil, tutur Retno, sangat serius memperhatikan ketika ia sedang meracik ramuan. Bahkan, kuliahnya pun memilih bidang kedokteran dengan tujuan nantinya bisa diaplikasikan di perusahaan orang tua. “Ia sempat menjadi tim ahli medis di Ristra, sebelum diboyong suaminya ke luar negeri,” tutur Retno.
Krishna yang bergabung dengan Ristra sepulang dari AS pada November 2002 memang belum optimal memperlihatkan performanya. Setahun belakangan Ristra memang terlihat agresif menggarap Ristra House. Paling tidak, ia telah memenuhi harapan orang tua untuk ikut mengurusi bisnis keluarga, dan boleh jadi ia pula yang kelak menjadi nakhoda Grup Ristra.

Mengikuti ayunan langkah orang tua untuk lebih membesarkan bisnis keluarga boleh jadi harapan semua orang tua. Dalam pandangan Bryan Tilaar, semua orang tua pasti menginginkan anaknya hidup baik dan sukses. Ia sendiri mengaku tertarik bergabung dengan Grup Martha Tilaar karena melihat bisnis consumer goods seperti beauty product dan servises ini memang sangat prospektif dari waktu ke waktu. Selain itu, ia juga memiliki obsesi Grup Martha Tilaar harus menjadi lebih besar dari yang sekarang. “Kalau generasi pertama sukses merintis, peran generasi kedua bersama generasi pertama yang masih aktif adalah menjadikan perusahaan maju beberapa langkah ke depan,” tandas Deputi Presdir Office Grup Martha Tilaar ini.

Meski bukan putra mahkota, Noni Sri Aryati Purnomo mengaku tertarik bergabung dengan Blue Bird Group (BBG) karena ada tantangan baru yang ditawarkan sang ayah, Purnomo Prawiro. Kelahiran Jakarta, 20 Juni 1969 ini diminta sang ayah — anak bungsu Mutiara Djokosoetono, pendiri BBG — untuk mengembangkan Divisi Pengembangan Bisnis BBG. Padahal, pada saat bersamaan ia mendapat tawaran bergabung dengan Johnson & Johnson, AS, seusai mengambil MBA di Universitas San Francisco. “Mungkin sudah nasib saya bergabung dengan Blue Bird,” ia mengungkap alasan lainnya sambil tertawa lebar.

Toh, sebagai salah satu cucu sang pendiri, Noni tak serta-merta menduduki posisi empuk. Sejatinya, Noni berkecimpung di BBG sejak di bangku SMA pada 1985 sebagai tenaga paruh waktu seperti staf data entry. Ia mengenang, saat itu ia digaji Rp 70 ribu per bulan. Ketika lulus S-1 dari Australia, Noni kembali menjadi tenaga paruh waktu di perusahaan keluarganya itu sebagai penyelia. Kendati di saat yang sama ia bekerja di Jakarta Convention Bureau (JCB). “Pagi bekerja di Jakarta Convention Bureau, sore sampai malam saya bekerja di Blue Bird,” kata peraih Bachelor of Engineering dari Universitas Newcastle, Australia ini.

Sejak bekerja di JCB, Noni yang lebih banyak mempelajari soal teknik industri mulai tertarik dunia pemasaran. Apalagi ia melihat di BBG belum ada strategi pemasarannya. Selama ini, para pendiri BBG lebih banyak menitikberatkan pada operasional yang dilandasi oleh kepercayaan masyarakat (pelanggan) dan kejujuran para awak Blue Bird, terutama yang di lapangan. “Itu yang menjadi kekuatan bisnis Blue Bird selama ini,” kata Noni yang menyelesaikan S-1 di Fakultas Teknologi Industri Universitas Trisakti.

Untuk memperdalam ilmu pemasaran, Noni berniat melanjutkan studi di AS. Ternyata sang ayah lebih sreg kalau putrinya mengambil finance. “Sebagai anak yang patuh, saya akhirnya memilih kedua mata kuliah tersebut,” kenang Noni. Usai menggondol MBA dan ditantang untuk mengembangkan divisi pengembangan bisnis, maka keinginan Noni ikut andil membesarkan perusahaan keluarga yang digulirkan sejak 1972 itu semakin mantap.

“Tugas inti divisi saya adalah strategi pemasaran,” ucapnya. Divisi yang baru dibentuk itu sangat pas, sejalan dengan bermunculannya brand-brand baru di BBG. Pasalnya, perusahaan ini tidak punya holding company sehingga merek-merek itu pun tidak terkelola dengan baik. Kerja keras Noni membangun strategi pemasaran BBG mebuahkan hasil. Saat ini BBG telah memiliki citra korporat, warna korporat, public relations, dan teknologi informasi yang lebih canggih. Bahkan, bidang TI juga terus dikembangkan oleh Noni sehingga lebih terintegrasi dan lebih canggih, seperti menggunakan sistem ERP di tahun 2000. “Dalam bekerja, saya berusaha sebaik mungkin. Saya merasa belum sukses, masih harus membangun teamwork (kerja sama tim) yang solid,” tandas Noni yang kini menjabat Vice President Pengembangan Bisnis BBG dan Direktur Grup Pusaka.

Peran orang tua dalam menempa semangat dan spirit diakui Noni sangatlah besar. Sejak kecil Noni sudah terbiasa dengan pembicaraan soal bisnis BBG. Lewat ajang makan malam bersama, kerap ayahnya menyisipkan edukasi nilai-nilai dan filosofi kehidupan. “Hal yang selalu ditekankan oleh Bapak kepada anak-anaknya adalah harus selalu bersyukur, bekerja keras, jujur dan disiplin. Selain itu, juga diajarkan kalau ingin sukses lihatlah ke atas dan lihatlah ke bawah agar bisa bersyukur,” demikian Noni menjelaskan petuah ayahnya yang selalu ia jadikan pegangan hidup.

Menurut Noni, nilai-nilai yang diterapkan sebagai budaya perusahaan BBG pun sejatinya berawal dari norma yang dipegang keluarga Mutiara Djokosoetono. Selain makan malam bersama, Purnomo sering pula mengajak anak-anaknya jalan-jalan, makan di luar atau nonton film saat hari libur. Saat-saat seperti itu pun, Purnomo sering membicarakan tentang kondisi bisnis BBG. Sementara di tempat kerja, Purnomo mempunyai cara tersendiri mengawasi anak-anaknya. Sang ayah biasanya langsung memanggil anaknya dengan cara menelepon atau meng-e-mail bila ada yang perlu dibicarakan.

Bahkan, setiap hari keluarga mereka, termasuk dengan Chandra Suharto, anak sulung pendiri BBG, dan anak-anaknya, sering makan bersama di ruang khusus di kantor. “Makan siang bersama di kantor itu sangat efektif untuk membicarakan bisnis Blue Bird. Di situlah terjadi rapat para pemegang saham,” papar Noni. Adu argumen di sela-sela makan siang kerap menjadi bagian dari santapan.

Sebenarnya, selain Noni ada empat cucu Mutiara Djokosoetono yang ikut bergabung mengembangkan BBG. Mereka itu dua orang putra Chandra Suharto (Preskom BBG). Krisna P. Djokosoetono sebagai Vice President Keuangan dan Sigit P. Djokosoetono, Vice President Operasional. Mereka berdua juga mengemban tugas yang sama sebagai Direktur Grup Pusaka.

Sementara dua adik kandung Noni yang ikut bergabung dengan BBG adalah Niniek Purnomo dan Adrianto Djokosoetono. Hanya saja, yang aktif hingga sekarang hanya Andrianto yang memegang bidang TI di BBG. Adapun Niniek lebih suka mengembangkan profesinya sebagai dokter. “Yang mengatur peran dan posisi kami adalah Pak Purnomo,” ujar Noni menyebut nama ayahnya dengan sebutan bapak kalau di kantor.

Sukses membangun karier di perusahaan keluarga juga diperlihatkan Ari Batubara. Sebagai Dirut PT Wiraswasta Gemilang Indonesia (WGI), Ari sepertinya tak mau menyia-nyiakan kepercayaan yang telah diberikan oleh sang ayah, AP Batubara. Dan, AP Batubara sepertinya tak keliru memilih Ari sebagai penerima tongkat estafet kepemimpinan di WGI. Terbukti dari prestasi yang berhasil ditorehkan Ari. Anak sulung ini tercatat mampu membenahi sistem informasi dan distribusi menjadi lebih baik, sehingga penjualan dan profit WGI meningkat sangat signifikan. Sejak 1998 sampai 2004, WGI membukukan peningkatan penjualan empat kali lipat.

Seperti Noni, Ari juga tak langsung duduk di singgasananya. Ari harus menjalani karier dari level bawah. Sebagai anak pemilik WGI, Ari ketika itu harus berkeliling, masuk-keluar bengkel. Hal yang sama dialami Lukyto Wanandi. Ia menjadi Direktur Pengelola Grup Santini setelah melalui proses yang sangat panjang. Ia memulai sebagai karyawan biasa di pabrik. Luky harus membuat laporan untuk atasannya, harus ikut stock-take di pabrik, sampai memanjat rak untuk menghitung stok di gudang. Dari pabrik, Luky diterbangkan ke Singapura untuk menjadi treasury officer dengan gaji hanya S$ 1.000. “Bisa dapat apa dengan gaji segitu,” ungkap Luki mengenang. Toh, ia selalu melihat gemblengan sang ayah itu sebagai pengalaman bekerja.

Cerita sukses anak konglomerat pun tak hanya mewarnai mereka yang mengikuti ayunan langkah orang tua. Di lintasan lain, banyak juga para pewaris kerajaan bisnis keluarga yang merentas sukses karena menorehkan jejaknya sendiri. Sebagai profesional, semisal Inghi Kwik. Dari nama belakangnya, orang pasti mafhum kalau ia anak Kwik Kian Gie. Hanya saja, Inghi rupanya lebih memilih menjadi profesional ketimbang mengikuti ayahnya sebagai pebisnis sekaligus politikus.

Anak konglomerat yang juga tak tertarik berbisnis adalah Sjakon. Ia memilih menjadi dokter. Padahal, ketika itu bisnis Julius Tahija mulai berkembang besar, termasuk Bank Niaga yang ketika itu masih dalam genggamannya. “Bisnis ayah saya ada yang lain, tapi yang paling utama adalah Bank Niaga,” kata Sjakon. Toh, Sjakon bersikukuh menjalani profesi dokter. Ia mulai menjadi dokter di Puskesmas, Flores, dan ia menjalani kariernya selama dua tahun (1981-83). Setelah itu ia mengambil spesialisasi mata dan sempat juga belajar ke AS. “Akhirnya saya mempelajari subspesialisasi bedah retina di Australia,” cerita Sjakon yang sempat menjadi staf pengajar di FKUI dan dokter di Jakarta Eye Center.

Setelah malang melintang sebagai dokter bedah retina, akhirnya Sjakon melirik juga dunia bisnis. Tahun 2004 ia mendirikan Klinik Mata Nusantara (KMN). “Saya mengawinkan antara kesenangan saya dan bisnis keluarga,” ungkap Sjakon. Klinik ini adalah bidang usaha kesehatan pertama dari Grup PT Austindo Nusantara Jaya yang merupakan cikal bakal perusahaan keluarga Tahija. “Saya pikir ada rasa tanggung jawab kepada orang tua, meski ayah saya tidak pernah meminta anaknya masuk ke bisnis. Terserah, anaknya mau ngapain,” ujar Sjakon yang di Austindo memilih menjadi komisaris.

Diakui Sjakon, ia dan George adiknya yang lebih dulu terjun di bisnis keluarga sebenarnya dituntun sang ayah untuk menggeluti etika bisnis. Misalnya, cara bisnis atau dagang yang dianggap benar secara etika. Menurutnya, ayahnya bukan tipe pebisnis yang memiliki prinsip mencari uang dalam waktu singkat. “Tetapi lebih ke arah pengembangan jangka panjang,” katanya.

Prinsip-prinisp semacam ini diberikan ayahnya ketika sedang berkumpul bersama. “Ketika kecil, ayah selalu pulang untuk sekadar makan siang berempat. Makan malam juga menjadi rutinitas yang wajib,” kenang Sjakon. Bahkan, sampai mereka SMA, ayahnya sering ngotot mengajak mereka pergi bersama ke vila di Tugu, Puncak. “Sampai SMA, kami selalu berangkat sama-sama ke vila itu,” sambungnya. Saat-saat berdekatan dengan anak-anaknya itu, Julius menyampaikan filosofi dan prinsip hidupnya.

Dalam proses hidup mereka, menurut Sjakon, mereka menjalani apa adanya hidup mereka. “Peran kami yang paling penting sebagai putranya adalah meyakinkan beliau waktu yang tepat ketika menjual Bank Niaga di tahun 1997,” paparnya

Di kalangan dokter mata, terutama spesialis retina, nama Sjakon bergaung keras. Sebelum mendirikan KMN, selama 10 tahun ia menjadi konsultan penyakit selaput saraf mata di Jakarta Eye Center. Bahkan prestasi alumni Research Fellowship in Cornea and External Eye Diseases, Prof. John W. Chandler, Universitas Winconsin, Madison, di bidang vetrio-retina ini, menggema sampai ke Singapura dan Malaysia. Kerja kerasnya memang telah membuahkan hasil. Dan, itu diakuinya karena dipicu oleh komitmen pribadi.

Usai menimba ilmu di Australia, Sjakon membuat komitmen bahwa 6 bulan ke depan ia harus dikenal oleh seluruh dokter mata di Jakarta. Dalam setahun dikenal oleh dokter mata di seluruh Indonesia dan dalam waktu tiga tahun dikenal secara regional. Ia yakin bisa mencapai target itu karena subspesialisasi retina masih langka. “Saya kejar bidang ini dan saya terus berusaha ada di depan,” katanya.

Menjadi yang terbaik di bidangnya memang menjadi ajaran ayahnya. Keinginan sang ayah ini tercermin dari ketekunannya dalam bekerja. “Ayah bangun jam empat pagi untuk kerja. Jam 10 malam tidur,” cerita Sjakon. Julius tidak pernah memberi dirinya waktu untuk istirahat. Namun dia tetap mementingkan keluarganya di atas semua. Sjakon mengenang, sang ayah tidak senang ketika anaknya terlihat terlalu santai. “Saya dimarahi kalau berburu terus, padahal saya dikenalkan kegiatan ini oleh ayah juga,” katanya. Desakan yang paling ia rasakan dari ayahnya yaitu menyelesaikan kuliah dan menjadi yang terbaik. Sang ayah masih sempat menanyakan ke para dosen menyangkut permasalahan anaknya.

Memberi teladan. Itulah yang juga senantiasa diterapkan Retno dan Suharto supaya anak-anaknya mampu menjadi yang terbaik di bidang apa pun yang dipilih mereka. Metode yang mereka berdua gunakan dalam mendidik anak sangat sederhana: memberi contoh, perhatian dan cinta. “Lha, bagaimana anak bisa nurut kalau tidak ada contoh yang baik dari orang tuanya. Bagaimana anak bisa baik, kalau tidak ada perhatian dan kasih sayang yang tulus dari orang tuanya,” ujar Retno. Sementara nilai-nilai filosofi yang senantiasa ditanamkan kepada anak-cucunya, lanjut Suharto, adalah prinsip kejujuran, kemandirian dan selalu mau mensyukuri hasil yang diperoleh. “Menurut kami, anak yang berhasil adalah yang bisa menjadi dirinya sendiri, be your self dan bisa belajar dari kegagalannya,” Suharto menegaskan.

Memberi teladan dengan perilaku juga diyakini Soegeng Sarjadi lebih baik ketimbang menasihati dengan jutaan kata. “Jangan cuma kata-kata, beri teladan dengan contoh,” ungkap salah satu pemilik Grup Kodel ini. Ngeli tanpo keli – mengalir tanpa terbawa arus — adalah pegangan yang diwariskan kepada ketiga putrinya. Di matanya, anak-anak mempunyai kehidupan sendiri, orang tua jangan terlalu cawe-cawe. Apa pun pilihan anaknya, Soegeng merasa itu yang terbaik yang diberikan Tuhan. Ia mengaku tidak punya hak untuk kecewa bila tidak ada satu pun anaknya yang tertarik melanjutkan bisnisnya yang telah dibangun puluhan tahun silam. “Mereka mempunyai pilihan hidup sendiri,” ungkap kelahiran Pekalongan, yang 5 Juni mendatang berusia 63 tahun ini. Meski anak-anaknya tak seorang pun yang mengikuti jejaknya, Soegeng patut bersyukur. Anak-anaknya tetap berjalan di rel yang diinginkan orang tua. Mereka tak neko-neko, apalagi sampai berbuat kriminal yang mencoreng nama baik keluarga.

Tak semata perilaku “miring”? yang membuat anak-anak konglomerat tak selalu menuai sukses. Ada sindrom, generasi pertama membangun, generasi kedua memanen, dan generasi ketiga melelang atau menjual aset. Toh, kalau pun mereka terjun di bisnis keluarga, bisnis yang dibangunnya sendiri — biasanya berkongsi dengan teman-teman kuliahnya — pun tak selalu kinclong. Di mata pengamat SDM dari MMUI, Budi W. Soetjipto, faktor kegagalan yang paling dominan adalah karena minat dan motivasi sang penerus; kompentensi untuk menjalankan bisnis; dan budaya perusahaan. Untuk menghindari kegagalan, yang harus dipersiapkan orang tua adalah bagaimana menumbuhkan minat anak atau generasi penerus terhadap bisnis yang dijalankan. Ia memuji langkah Mooryati yang kerap mengajak anaknya melihat dari dekat ajang pemilihan Putri Indonesia, dan bahkan dilibatkan menjadi juri untuk menumbuhkan minat anaknya pada bisnis kecantikan.

Sementara itu, untuk mengasah kompetensi sejatinya sudah umum dilakukan para konglomerat dengan memagangkan anak-anaknya di perusahaan sendiri atau di perusahaan koleganya. Untuk budaya kerja, Budi menyarankan sebaiknya sang anak atau cucu tidak langsung menempati posisi bos. Bisa saja ditempatkan di level menengah sehingga bisa memahami budaya perusahaan.

Keberhasilan atau kegagalan dalam regenerasi sangat tergantung pada interes dan motivasi generasi penerus. Juga, perlu diperhatikan adanya friksi yang berbeda antara anak dan orang tuanya. Meskipun anaknya terlihat mampu, anak buah orang tuanya yang sudah lama menekuni bisnis itu sudah terbiasa dengan gaya kepemimpinan bapaknya. “Ini tercermin di Jawa Pos dan Grup Djarum di mana gaya kepemimpinan anak berbeda dari orang tuanya,” ungkap Budi.

Agar sukses, yang perlu dipersiapkan orang tua, menurutnya, adalah pendidikan dan pengetahuan mengenai bisnisnya. Generasi penerus juga perlu dilibatkan dalam kegiatan perusahaan, tetapi yang paling penting orang tua jangan terlalu memaksakan kehendak untuk melibatkan anaknya dalam mengelola perusahaan. “Paling tidak, sebelum melibatkan generasi penerus, mereka harus memperkenalkan bisnisnya dulu,” tambah Budi.

Dalam telaah yang berbeda, pengamat SDM dari Prasetiya Mulya, Sammy Kristamulyana, menilai figur ibu sangat penting dalam kaderisasi di perusahaan keluarga. Karakter perusahaan keluarga memang selalu mempunyai tokoh sentral sebagai panutan. Bila konglomerat memiliki istri yang peduli mengurus anak, ia menduga kebanyakan akan berhasil. Faktor lain yang memengaruhi sukses- tidaknya kaderisasi adalah pergaulan orang tuanya sendiri. “Kalau bergaul hanya dengan kalangan bisnisnya, tidak akan banyak berkembang,” kata Sammy. Namun bila bergaulnya dengan kalangan intelektual akan kena imbas dan mulai memikirkan untuk melakukan perencanaan menyekolahkan anaknya ke luar negeri.

Faktor ketiga yang perlu diperhatikan, “Jangan lama-lama menyekolahkan anak di luar negeri,” Sammy menyarankan. Sebaiknya bila menyekolahkan anak ke luar negeri hanya sampai tingkat sarjana, kemudian dipanggil pulang untuk membantu orang tuanya. Sammy melihat beberapa konglomerat yang memberikan keleluasaan anaknya untuk mengasah kemampuan sekaligus mencari pengalaman di tempat lain yang punya track record, jelas sebagai langkah bijak. “Setelah itu, baru dipanggil untuk bergabung ke perusahaan yang dikelola orang tuanya. Kalau perlu mulai dari level yang paling bawah dan perlahan-lahan naik,” lanjutnya.

Senada dengan Budi, ia juga mewanti-wanti agar para konglomerat tidak memaksakan anaknya yang tidak mampu untuk menggantikannya. Meskipun perusahaannya sudah kepalang besar, harus menyerahkan kepada profesional. “Jangan sampai anak yang tidak bakat bisnis dipaksakan untuk melanjutkan bisnis keluarga,” katanya. Karena itu, sangat perlu memperkenalkan kepada mereka sejak awal bisnis yang digeluti orang tuanya.

Sammy juga mengamati, ada kekurangan besar yang menghinggapi generasi baru konglomerat. Para konglomerat generasi Sudono Salim dkk. memiliki unsur perkawanan sangat erat dan perkembangan bisnis di-sharing dengan sangat insentif. Namun perkawanan di kalangan anak-anak konglomerat ini tidak terlihat cukup erat. “Bisa jadi sudah terpengaruh pendidikan di luar yang lebih mengarahkan pada persaingan. Ini yang perlu digalang oleh the next generation enterpreneur, ” saran Sammy.
+++++++++++++++
Axton, Si Penerus Kerajaan Bisnis Grup Salim

Sabtu, 07 Januari 2012

9 Langkah Ketika Bisnis Mendadak Sukses


Wajar bila Anda ingin merayakan kesuksesan Anda, tetapi tinggalkan dulu impian untuk liburan ke Eropa bersama keluarga, atau membeli mobil mewah.



Arsip Berita Sedunia berbagi tips di dunia bisnis, kali ini blog Arsip Berita Sedunia ingin mengungkap fakta yg tersingkap tentang 9 Langkah Ketika Bisnis Mendadak Sukses

Ketika bisnis Anda yang berskala kecil mendapat liputan dari media, pengaruhnya tak pernah Anda bayangkan. Tiba-tiba, restoran Anda dibanjiri pengunjung, atau produk Anda mendapat pesanan barang dari kota-kota lain. Kesuksesan yang diperoleh dalam "semalam" ini kerap berubah menjadi mimpi buruk. Ya, banyak pemilik bisnis yang tak siap dengan keberhasilan tersebut, seperti kekurangan modal, staf, atau infrastruktur untuk melayani permintaan dalam jumlah besar. Akhirnya, ia malah menghabiskan hasil keuntungannya hanya untuk bersenang-senang.

Itulah sebabnya, Anda membutuhkan semacam survival guide untuk membantu Anda berpikir dengan cepat dan bertindak dengan sigap ketika suatu saat Anda menyadari bahwa Anda telah menerima kesuksesan. Rosalind Resnick, CEO Axxess Business Consulting, perusahaan konsultan untuk startups dan bisnis kecil, berbagi tips untuk Anda.

1. Berhenti sejenak. Wajar bila Anda ingin merayakan kesuksesan Anda, tetapi jangan segera shopping gila-gilaan, liburan ke Eropa bersama keluarga, atau membeli mobil mewah. Order besar yang Anda terima, atau liputan media terhadap bisnis Anda tidak berarti uang langsung mengalir masuk ke rekening Anda. Setidaknya, tidak sekarang. Bukankah pesanan barang akan membuat Anda harus mengeluarkan uang tambahan untuk membeli material, membayar gaji karyawan, atau membiayai operasional? Untuk memenuhi produksi, Anda mungkin malah butuh tambahan modal.
2. Susun strategi. Anda pasti mendapat tekanan dari pelanggan untuk segera mengirimkan pesanan barang. Sementara memproduksi barang, luangkan waktu bersama partner bisnis untuk menyusun rencana yang akan datang. Anda perlu memperkirakan berapa unit produk yang akan dibeli pelanggan, atau berapa besar biaya untuk memproduksi dan melakukan pengiriman barang. Atau, berapa banyak karyawan tambahan yang dibutuhkan untuk membantu menangani produksi.
3. Cari bantuan. Anda mungkin begitu bersemangat sehingga bertekad untuk melakukan semuanya sendiri. Tetapi, pikirkan lagi. Sekeras apapun Anda bekerja, Anda tetaplah butuh istirahat. Saat itulah Anda membutuhkan orang lain untuk membantu Anda. Jika perusahaan Anda sudah memiliki karyawan, mintalah mereka bekerja lembur untuk membantu menyelesaikan pekerjaan. Kalau Anda tergolong orang yang biasa bekerja sendiri, mintalah bantuan teman-teman atau anggota keluarga. Bagaimana bila mereka tidak memiliki kemampuan yang Anda butuhkan? Anda bisa memasang iklan untuk mencari freelancer yang terlatih atau kontraktor yang independen. Namun karena kesuksesan Anda belum tentu berlaku selamanya, jangan memutuskan untuk merekrut karyawan tetap dengan segala fasilitas kesehatan atau pinjaman rumah, sampai kondisi perusahaan Anda stabil.

4. Bina kerjasama produksi. Bisnis skala kecil seperti membuat sabun buatan tangan bisa saja mendapat pesanan dengan kapasitas jutaan unit dari jaringan perusahaan berskala besar. Itulah sebabnya Anda perlu bekerjasama dengan perusahaan yang bisa membuat sampel atau prototip produk Anda, dan memproduksinya dalam jumlah besar. Tak akan sulit menemukan produsen yang dapat memproduksi barang berkualitas baik. Anda bisa menghubungi asosiasi perdagangan untuk berkonsultasi dan mendapat rujukan.

5. Ciptakan jaringan distribusi. Ketika memperoleh liputan media mengenai produk atau jasa Anda, Anda akan mulai menerima banyak pesanan dari konsumen dan retailer di penjuru tanah air. Saat itu, Anda pasti membutuhkan bantuan untuk menjual atau melayani pelanggan-pelanggan baru. Daripada merekrut manajer penjualan berskala nasional, dan membuka kantor di kota-kota lain, akan lebih hemat-biaya jika Anda menjual produk melalui perwakilan produsen Anda. Perwakilan ini akan bertindak sebagai agen penjualan independen, dan bekerja berdasarkan komisi. Kebanyakan perwakilan memiliki hubungan jangka panjang dengan retailer yang menjual barang mereka, dan kadangkala mensponsori booth-booth di pameran perdagangan untuk memamerkan produk.
6. Berkomunikasilah dengan pelanggan. Komunikasi menjadi "jantung" dari relasi Anda dengan pelanggan. Dengan komunikasi -yang saat ini banyak dilakukan melalui media sosial- Anda bisa memberitahukan kepada pelanggan jika ada keterlambatan pengiriman barang, misalnya. Anda juga bisa mempromosikan produk apa yang akan segera beredar dan perlu dimiliki pelanggan. Hal ini biasanya berlaku untuk produk apparel atau apapun yang sifatnya musiman.

7. Dongkrak kesuksesan Anda. Yang tersulit saat menghadapi kesuksesan yang tiba-tiba adalah menjaga agar bisnis tetap berjalan. Anda tentu tak ingin mendapati gudang Anda masih menyimpan ratusan atau ribuan barang yang teronggok tidak terurus, bukan? Anda bisa mencoba menemukan pasar baru untuk produk dan layanan Anda, atau menciptakan cara baru untuk mempublikasikannya. Toko online, misalnya, kini makin populer. Anda bisa mencobanya untuk meraih pasar yang lebih luas.

8. Buat investasi. Rasanya memang sungguh menggoda untuk membelanjakan keuntungan yang Anda peroleh untuk bersenang-senang. Namun ingatlah bahwa hidup Anda masih panjang, dan bisnis masih perlu dikembangkan. Hal pertama yang perlu Anda lakukan adalah menginvestasikan kembali beberapa bagian dari keuntungan tersebut untuk mengembangkan bisnis. Anda bisa membayar utang, membeli peralatan baru, membuat menu-menu baru, merekrut tenaga kerja baru, atau membuka toko baru di lokasi lain.

9. Belajar dari kesalahan. Setelah eforia kesuksesan berlalu, luangkan waktu kembali bersama partner dan staf Anda untuk mengevaluasi hasil kerja Anda. Apa yang membuat bisnis sukses, apa yang berjalan dengan tidak semestinya, dan apa yang menurut Anda bisa dilakukan untuk memperbaiki kinerja di masa mendatang. Hal ini akan membantu Anda memastikan strategi berjalan sesuai rencana jika suatu saat Anda berhasil mensukseskan produk baru. Siapa tahu, kesuksesan akan terjadi lebih cepat dari yang Anda harapkan.

Rabu, 04 Januari 2012

7 Tips Manfaatkan Waktu Nganggur Anda

Belum dapat kerja? Jangan putus asa. Mendapatkan pekerjaan impian di tengah situasi krisis ekonomi global imbasnya terasa sampai ke dalam negeri seperti sekarang ini memang agak sulit.

Tapi jangan takut, Indonesia baru saja mendapat peringkat investment grade yang berarti tak lama lagi arus dana asing masuk cukup signifikan. Itu berarti, banyaknya investasi asing baru di tanah air, yang ujung-ujungnya banyak perusahaan baru yang membutuhkan sumber daya manusia baru alias lapangan kerja kembali marak.

Sementara anda menunggu pekerjaan impian anda, atau mungkin anda tidak muluk-muluk dan hanya ingin mendapatkan penghasilan beberapa tips di bawah ini mungkin bisa membantu. Seperti dikutip dari tipd.com, Rabu (4/1/2011), berikut ini beberapa tips yang bisa anda lakukan selama masih menganggur:

1. Kembali ke sekolah
Sekarang saat yang tepat untuk meneruskan pendidikan anda ke jenjang yang lebih tinggi. Setelah berhasil menyelesaikan sekolah, melamarlah ke sektor industri yang lebih luas, karena kesempatan anda lebih banyak lagi. Jangan lupa cek berbagai beasiswa yang tersedia sehingga anda tidak perlu mengeluarkan uang.

2. Memulai bisnis sendiri
Jangan hanya menunggu sampai lowongan kerja tersedia. Anda harus lebih aktif. Memang ekonomi sedang dunia masih dalam masa sulit, tapi bisa jadi kesempatan yang bagus untuk memulai bisnis karena Indonesia termasuk negara yang tidak terlalu kena imbas krisis.

Bisnis online bisa menjadi pilihan yang baik, karena tidak membutuhkan modal dan waktu yang banyak. Rancang sebuah blog atau website, mulailah promosikan produk atau jasa online. Hal ini lumayan mengasah kemampuan marketing anda.

3. Kembangkan skill yang bisa dijual
Ada beberapa skill yang sangat diperlukan bagi perkembangan ekonomi di masa mendatang. Kalau anda merasa belum menguasai keahlian tersebut, sebaiknya mulai belajar dari sekarang. Salah satunya yang paling menjual di masa mendatang adalah, belajar bahasa asing, belajar perangkat lunak program terbaru yang sedang populer, atau bahkan anda bisa ikut kursus tertentu untuk mendapatkan sertifikat.

Menguasai skill baru terkadang butuh biaya, tapi semuanya tidak akan sia-sia. Anda juga bisa belajar banyak dari internet, yaitu melalui video tutorial, dan situs-situs bantuan lainnya.

4. Permak lamaran kerja anda
Jika anda sudah cukup lama menganggur, sebaiknya periksa kembali lamaran kerja yang selama ini anda kirimkan ke perusahaan-perusahaan. Mungkin saja, lamaran kerja anda kurang menarik atau tidak relevan.

Sudah saatnya anda merombak dan permak lamaran kerja serta CV anda. Mulailah dari awal, tentukan faktor-faktor penting yang ingin anda tekankan dalam lamaran kerja.

Minta tolong orang lain untuk menilai lamaran kerja anda adalah ide yang sangat baik, supaya anda bisa mendapatkan komentar dan masukan. Ada baiknya jika anda menyiapkan beberapa lamaran kerja yang berbeda.

5. Pindah ke daerah dengan biaya hidup rendah
Jika anda bertahan hidup di kota besar, katakanlah Jakarta yang biaya hidupnya sangat tinggi, dengan kondisi menganggur, sama saja seperti bunuh diri. Ada banyak kesempatan kerja di daerah, yang mungkin gajinya tidak sebesar di Jakarta tapi cukup layak jika melihat biaya hidupnya yang rendah.

Jangan terlalu nyaman diam di tempat yang anda tinggali sekarang, apalagi tanpa pendapatan sama sekali. Pindahan juga membutuhkan biaya yang tidak sedikit, tapi anda tidak perlu membeli rumah karena masih bisa menyewa.

6. Magang atau jadi relawan
Uang menjadi faktor utama dalam pekerjaan, tapi pengalaman kerja lebih penting. Mendapatkan kerja memang sulit, tapi mendapatkan pengalaman bisa setiap hari. Ada banyak organisasi yang mencari sukarelawan atau perusahaan membutuhkan anak magang. Dalam beberapa kasus, magang bisa jadi pintu menuju pegawai tetap, atau anda bisa mendapatkan relasi yang menawarkan pekerjaan.

7. Perluas jaringan siang dan malam
Gunakan waktu senggang anda untuk berinteraksi dengan banyak orang sesering mungkin. Buatlah jadwal pertemuan sendiri, hadiri seminar dan bursa kerja lalu ngobrolah dengan banyak orang di tempat-tempat tersebut. Selalu siapkan kartu nama atau CV dan lamaran kerja anda setiap saat.

Kesempatan kerja anda bisa datang setiap saat, jangan sampai anda gagal meraih kesempatan itu karena tidak siap. Relasi sangatlah penting dalam mencari kerja. Jika anda sudah bertemu dengan orang yang tepat, keberuntungan anda akan berubah.

Kesimpulan
Jangan mudah menyerah jika belum mendapatkan pekerjaan. Badai pasti berlalu, selalu ada cahaya di ujung terowongan. Selalu sibukkan diri anda dengan hal-hal berkualitas dan tetaplah berpikiran positif.

Minggu, 01 Januari 2012

4 Bisnis yang Akan Moncer 2012


Sektor industri pangan, industri jasa dan perhotelan, serta pertambangan dan energi diperkirakan bakal mengalami booming pada 2012. Permintaan di dalam negeri terhadap industri jasa, perhotelan, serta makanan di dalam negeri akan meningkat.
»Adapun pertambangan dan energi karena permintaan di beberapa negara yang tidak terkena krisis juga cukup besar,” tutur Didik J. Rachbini, Kepala Lembaga Pengkajian, Penelitian, dan Pengembangan Ekonomi (LP3E) Kadin Indonesia, di Jakarta, Rabu, 28 Desember 2011.
Menurutnya, pertumbuhan kelompok masyarakat yang memiliki daya beli tinggi saat ini cukup besar. Sehingga, permintaan terhadap sektor jasa dan produk makanan maupun perhotelan akan terus bertumbuh.
Dia menyebut, sektor konsumsi masih akan menyumbang sekitar 60 persen dari pertumbuhan ekonomi. »Namun, bila pemerintah tidak bisa menjaga kondisi yang nyaman bagi kalangan usaha, maka pertumbuhan industri di dalam negeri akan di bawah target pemerintah,” kata Didik.
Dia menyebut, angka pertumbuhan 7,1 persen yang dipatok pemerintah pada 2012 cukup rasional bila diimbangi dengan tingkat suku bunga kredit yang rendah. Begitu pun dengan infrastruktur dan energi, khususnya listrik yang memadai. »Bunga bank masih belum bersahabat, padahal Bank Indonesia sudah menurunkan BI Rate,” kata Didik.
Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri Suryo Bambang Sulisto berharap suku bunga kredit perbankan bisa berada di level 8 persen atau kurang dari itu. Pasalnya, lanjut dia, suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate) sudah berada di angka 6 persen.
Menurutnya, upaya BI tidak diikuti dengan penurunan tingkat bunga bank-bank komersial. Dia mensinyalir adanya ketidakefisienan bank-bank komersial. "Kontribusi bank-bank komersial di investasi perusahaan dan modal kerja masih rendah,” ujarnya.
Investasi yang disalurkan tak lebih dari 25 persen dan modal kerja sekitar 21 persen. Walhasil, sebut dia, hal ini kurang mendorong perkembangan sektor riil.
Hal senada juga diungkapkan Didik Rachbini. Ia menyebut, ketidakefisienan bank terlihat dari masih tingginya biaya operasi, biaya bunga, serta biaya risiko. Semua komponen itu masih dalam komponen bunga.